Home BeritaCara Sukanto Tanoto Menghadirkan Industri Fashion Berkelanjutan

Cara Sukanto Tanoto Menghadirkan Industri Fashion Berkelanjutan

Image Source: Aprayon.com

            Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, memandang kelestarian alam sebagai hal utama. Oleh karenanya, operasional RGE selalu diarahkannya untuk memerhatikan aspek-aspek keberlanjutan.

            Hal itu diterapkan ke semua bidang bisnis yang ditekuninya. Salah satu contohnya adalah industri serat viscose yang ditekuninya. Dari situ Sukanto Tanoto ingin mendorong penerapan sektor fashion berkelanjutan.

            Sukanto Tanoto melakukannya bersama Asia Pacific Rayon (APR). Ini adalah anggota terbaru RGE. Berdiri pada 2018, APR merupakan produsen viscose pertama yang terintegrasi secara penuh di Asia dari hutan tanaman industri terbarukan.

Sekarang APR berbasis di Pangkalan Kerinci, Riau. Dari sana mereka menjalankan pabrik berkapasitas 240,000 ton per tahun. Dari kapasitas produksi yang dihasilkan, APR mampu mengekspor produk-produknya. Tidak kurang dari 14 negara yang menjadi pasarnya. Kendati demikian, alokasi untuk pasar domestik tetap diberikan dari separuh kemampuan produksinya.

Bersama APR, Sukanto Tanoto gencar mengampanyekan fashion berkelanjutan. Hal ini dirasa penting karena jika dijalankan tanpa memegang prinsip-prinsip keberlanjutan, industri fashion akan memberi dampak negatif terhadap alam.

Sustainable fashion merupakan tuntutan di tengah kenaikan tuntutan produk ramah lingkungan. Tanpa itu, sebuah produk tidak akan diterima di pasar. Namun, APR bisa menjawabnya dengan baik. Fashion keberlanjutan hadir lewat produk alami yang dihasilkannya.

APR  memang memproduksi viscose  yang dapat menjadi bahan baku kain alami. Bahan tersebut terbuat dari kayu selulosa yang tidak mengandung plastik sama sekali. Selain itu, seratnya mudah diuraikan dengan natural di tanah.

Bukan hanya itu, bahan-bahannya pun diperoleh dari perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan. APR mendapatkannya dari hutan tanaman industri yang dikelola oleh APRIL Group dengan memegang Sustainable Forest Management Policy 2.0. Berkat itulah jaminan ramah lingkungan dimiliki.

Kendati alami, kualitas viscose  dari APR bisa bersaing. Produknya justru memiliki berbagai karakter yang disukai oleh desainer fashion. Sebagai contoh, serat tekstilnya dapat diaplikasikan ke berbagai produk dengan mudah. Lalu, kainnya lembut seperti kain katun. Bahkan, tingkat kehalusannya bisa dibandingkan dengan kain sutra.

Desainer fashion juga bisa bermain-main dengan viscose  APR. Tekstilnya dapat diwarnai dengan baik. Hasil pewarnaan cerah sehingga menarik. Hal itu masih ditambah dengan kemudahan menyerap keringat dan tidak panas.

Saat ini, produk textile fibre APR bisa dipakai untuk bahan baku berbagai hal. Contohnya mulai dari kain rajutan, kain tenun, dan tekstil rumahan. Hasilnya beragam. Kain rajutan dapat digunakan untuk produksi rajutan dalaman berkualitas tinggi, gaun dan kaus. Sedangkan kain tenunan digunakan untuk gaun, berbagai jenis denim, kemeja, kain batik, dan aneka pakaian kasual. Sementara itu, tekstil rumahan dimanfaatkan sebagai handuk, seprai, taplak meja, serbet, dan kain dekoratif kelas atas.

APR bahkan meluncurkan sistem keterlacakan produk demi memperkuat keberlanjutan produk-produknya. Konsumen bisa mengaksesnya dengan mudah di Followourfibre.com. Di sana APR menggunakan teknologi blockchain demi memastikan asal bahan baku. Konsumen pada akhirnya dapat menemukan detail produk mulai asal perkebunan, waktu produksi, hingga pengiriman dengan hanya melihat di ponsel.

Bukan itu saja, APR juga serius mengelola emisi gas dan penggunaan bahan kimia dalam proses produksi dengan baik. Perusahaan Sukanto Tanoto ini tercatat mampu memulihkan 90 persen bahan kimia dalam produksi dengan sistem kontrol loop tertutup. Hal tersebut ditambah dengan operasional pabrik yang memanfaatkan energi biomassa terbarukan.

Semua itu akhirnya dilengkapi dengan kontribusi terhadap masyarakat. APR selalu memerhatikan dampak yang dirasakan warga sekitarnya. Mereka membuka lapangan dan membantu para pengrajin kain batik lokal untuk memakai kain dari viscose  yang lebih aman untuk alam.

“Dari perkebunan ke fashion, kami percaya bahwa APR dapat membangkitkan industri tekstil di Indonesia. Saat kami katakan dari plantation ke fashion, hal ini menjadi kenyataan,” ujar Ben Poon, Deputy Head APR.

INVESTASI RGE

Image Source: Aprayon.com

            Selain melalui APR, Sukanto Tanoto mendorong fashion berkelanjutan dengan komitmen besar. RGE yang dipimpinnya serius mendukung pengembangan industri tekstil berkelanjutan dengan mengucurkan investasi senilai 200 juta dolar Amerika Serikat (AS) selama 10 tahun ke depan dalam penelitian dan pengembangan serat tekstil selulosa.

            Langkah tersebut dipaparkan kepada publik menjelang Textile Exchange Sustainability Conference di Vancouver pada 18 Oktober 2019 lalu. Di sana RGE memperlihatkan komitmen kuat dalam mendukung solusi dalam selulosa alternatif atau bahan baku dan manufaktur lingkaran tertutup.

Nantinya investasi akan dibagi ke dalam tiga bidang. Porsinya pun berbeda-beda sesuai kebutuhan. Adapun perinciannya ialah alokasi 70 persen untuk upaya meningkatkan teknologi bersih dalam pembuatan serat. Lalu alokasi 20 persen untuk produksi skala percontohan ke skala komersial. Sementara itu, sisa alokasi 10 persen dipergunakan untuk penelitian dan pengembangan dalam solusi perbatasan yang muncul.

“Ini adalah area pertumbuhan bisnis yang strategis untuk RGE. Portofolio perusahaan kami yang terintegrasi di seluruh produksi pulp, serat, dan benang menempatkan kami pada posisi hulu yang unik dalam rantai nilai tekstil. Kami ingin mewujudkan skala komersial dan solusi terjangkau yang mendukung produsen dan merek hilir,”  kata Vice Chairman RGE, Bey Soo Khiang. “Kami bercita-cita tidak hanya menjadi produsen viscose terbesar tetapi juga menjadi pemimpin dalam produksi serat tekstil berkelanjutan melalui inovasi.”

            RGE tidak main-main. Mereka sudah memperlihatkan keseriusan dengan berinvestasi di perusahaan Finlandia, Infinited Fiber (IFC) sejak Agustus 2019. Ini dilakukan agar bisa menghadirkan bahan baku alternatif yang bisa mendorong perubahan.

Buah langkah tersebut akan mulai terlihat sejak awal tahun 2020. Saat itu pabrik pra-komersial dengan kapasitas 500 ton di Finlandia akan siap bersamaan dengan pusat pelatihan pelanggan.

            Akan tetapi, patut diingat, sejak Mei 2019. RGE juga sudah terlebih dulu menandatangani nota kesepahaman dengan re:newcell untuk kerjasama teknis dan uji coba pada produksi viscose menggunakan kapas daur ulang. Kesepakatan tersebut diharapkan akan mampu menghadirkan produk dengan skala industri pada tahun 2025 nanti.

            Selain itu, RGE telah memulai diskusi kemitraan dengan Fashion for Good. Ini merupakan platform inovatif yang berfokus pada peracikan, penskalaan teknologi, dan model bisnis yang memiliki potensi terbesar untuk mengubah industri fashion

Selain itu, tim R&D internal RGE melakukan penelitian tentang bahan baku selulosa alternatif seperti limbah pertanian dan kapas daur ulang. Mereka juga melakukan penelitian manufaktur loop tertutup terkait produksi viscose. Bersamaan dengan itu, RGE juga bekerja sama dengan universitas terkemuka dan pusat R&D global dalam berbagai hal.

Berbagai hal tersebut memperlihatkan kesungguhan RGE dan Sukanto Tanoto dalam menghadirkan industri fashion berkelanjutan. Hal itu sangatlah penting demi mengimbangi laju perkembangan bisnis fashion yang semakin cepat.

Lebih lanjut, hal itu juga merupakan perwujudan filosofi bisnis 5C yang dicanangkan Sukanto Tanoto. RGE diarahkannya agar mampu berguna bagi masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), sehingga akan baik bagi perusahaan (Company). Kehadiran industri fashion berkelanjutan menjadi perwujudan nyatanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *